Danramil Tibawa Dorong Kebersamaan Warga Dalam Pembangunan Fasilitas Umum Desa

By Sinthya Airin 21 Nov 2025, 17:55:00 WIB Berita Terkini
Danramil Tibawa Dorong Kebersamaan Warga Dalam Pembangunan Fasilitas Umum Desa

Tibawa, 21 November 2025 – Suara palu dan cangkul berpadu dengan tawa warga yang bergotong royong memperbaiki jembatan yang sempat ambruk akibat derasnya aliran sungai. Kerja keras itu menjadi bukti nyata bahwa semangat kebersamaan masih hidup di tengah masyarakat Desa Reksonegoro. Dalam kegiatan tersebut, Danramil 1315-04/Tibawa, Kapten Inf Abdul Kabir Lessy, tampak hadir meninjau langsung jalannya pekerjaan dengan penuh perhatian.

Sementara itu, kehadiran Danramil Tibawa di lokasi tidak hanya sebatas pemantauan formal. Kapten Abdul Kabir Lessy justru terlibat dalam suasana akrab bersama warga, berbincang ringan dan memberi dorongan moral kepada para pekerja. Ia mengapresiasi langkah swadaya yang dilakukan masyarakat Desa Reksonegoro dan Desa Molowahu. Baginya, kekuatan terbesar suatu wilayah bukan pada anggarannya, tetapi pada semangat warganya yang saling mendukung dalam menghadapi kesulitan.

Berbeda dari proyek besar yang mengandalkan dana pemerintah, pembangunan jembatan ini lahir dari kekompakan masyarakat. Warga dengan sukarela menyumbangkan tenaga, bahan bangunan, dan waktu mereka demi kepentingan bersama. Di tengah keterbatasan, semangat itu tetap menyala. Setiap ayunan cangkul dan tumpukan batu menjadi lambang tekad untuk memulihkan kembali akses vital yang menghubungkan dua desa.

Pada saat yang sama, dukungan dari pemerintah kecamatan turut memperkuat semangat warga. Camat Tibawa, Herman, S.I.P., bersama Kapolsek Tibawa, Iptu Maryono Baderan, datang ke lokasi untuk memantau langsung jalannya pembangunan. Mereka tidak hanya hadir secara simbolis, tetapi juga memberikan arahan serta motivasi agar pekerjaan berjalan aman dan lancar. Sinergi antara aparat pemerintah dan masyarakat tampak begitu harmonis.

Tak kalah penting, para kepala desa di sekitar lokasi turut menunjukkan kebersamaan. Kepala Desa Reksonegoro, Noniawati Pulukadang; Kepala Desa Isimu Raya, Sukrin Jafar Mohune; dan Kepala Desa Dunggala, Maskun Usman Karim, datang memberikan dukungan moril. Mereka menilai, pembangunan ini bukan sekadar memperbaiki jembatan yang rusak, tetapi memperkuat jembatan sosial yang selama ini menghubungkan antarwarga.

Dari sisi warga, jembatan ini memiliki arti lebih dalam daripada sekadar fasilitas fisik. Jalur tersebut merupakan penghubung utama menuju lahan pertanian dan sekolah bagi anak-anak desa. Kerusakan yang terjadi sebelumnya membuat aktivitas warga terhambat dan memaksa mereka memutar jauh. Kini, melihat proses pembangunan yang berjalan, harapan itu kembali tumbuh di hati mereka.

Di sela kegiatan, Kapten Abdul Kabir Lessy memberikan pesan penting kepada masyarakat agar semangat gotong royong tetap dijaga. Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh anggaran, tetapi oleh kerja sama dan keikhlasan setiap orang yang terlibat. Ia menegaskan, TNI akan selalu berdiri di sisi rakyat, baik dalam menjaga keamanan maupun dalam membantu pembangunan di wilayah.

Sore menjelang petang, suasana kerja mulai mereda. Warga berkumpul sejenak menatap hasil kerja hari itu dengan senyum bangga. Meski jembatan belum sepenuhnya rampung, mereka tahu setiap langkah kecil membawa perubahan besar. Rasa lelah terbayar dengan kepuasan melihat hasil nyata dari kerja keras bersama.

Malam mulai turun perlahan, menandai berakhirnya satu hari penuh perjuangan. Namun, semangat yang terbangun di antara warga tidak padam. Mereka berjanji akan kembali melanjutkan pekerjaan esok hari, dengan tekad yang sama kuatnya seperti hari ini.

Kegiatan di Desa Reksonegoro itu menjadi pelajaran berharga tentang arti kebersamaan. Tanpa menunggu bantuan besar, masyarakat mampu membangun sendiri apa yang mereka butuhkan. Dukungan dari TNI dan aparat pemerintahan menambah keyakinan bahwa sinergi akan selalu membawa hasil positif.

Hari itu meninggalkan jejak mendalam bagi semua yang terlibat. Jembatan yang dulunya ambruk kini bangkit kembali, bukan hanya sebagai sarana penghubung, melainkan juga simbol persatuan dan semangat pantang menyerah masyarakat Gorontalo. Dari kerja tangan-tangan sederhana itu, tumbuh keyakinan bahwa pembangunan sejati selalu berawal dari hati yang bersatu.

Ketika senja berganti malam, suara cangkul yang tadi riuh kini berganti dengan percakapan ringan di antara warga. Mereka menatap aliran sungai yang tenang sambil tersenyum puas. Dalam keheningan itu, tersimpan makna besar: selama gotong royong tetap hidup, tak ada yang tak bisa dibangun oleh rakyat bersama TNI.




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment